BINTANG YANG TERLUKA
Malam semakin larut. Udara yang berhembus membuat kulitku terasa beku. Belum lagi gerimis yang membuat suasana tengah malam ini menjadi dingin, gelap, dan sunyi. Tapi ini semua tidak mempengaruhi kami para geng motor untuk tetap melakukan ritual kami di setiap malamnya. Tidak ada hal yang bisa mempengaruhi kami untuk membatalkan balap liar. Hujan, petir, gempa, tidak ada yang bisa membuat kami lari dari perkumpulan anak-anak liar ini. Kecuali polisi, itu satu-satunya ancaman bagi kami.
Semua peserta sudah siap dan tidak sabar menunggu aba-aba mulai. Deru motor semakin melolong memekakkan telinga. Sorakan keras dari mereka juga memecah kesunyian di jalan kecil ini. Mereka berteriak memberi semangat, semakin keras meskipun hujan turun makin deras membasahi mereka.
Aku kedinginan, menggigil di serang demam. Mataku terasa panas dan ingin sekali ku pejamkan. Tapi aku harus kuat. Aku harus menang malam ini. Aku harus bisa menjadi orang pertama yang tiba di garis finish. Aku harus bisa mendapatkan uang dari hasil taruhan balap liar ini. Untuk Bintang, aku harus bisa.
Hanya Bintang yang aku punya. Bintang satu-satunya alasan yang membuat aku bertahan dalam situasi seperti ini. Bintang satu-satunya orang yang menghapuskan air mataku saat aku kehilangan orang-orang yang aku cintai. Bintang selalu membuat aku tersenyum meski dia sendiri sulit untuk tersenyum di depanku. Aku sayang Bintang, aku tidak ingin dia merasa sendiri setelah kehilangan ayah dan ibu, karena dia memang tidak sendiri. Dia masih punya aku yang akan selalu ada untuknya. Aku akan menjadi kakak terbaik untuknya.
Kepergian ayah dan ibu memang terlalu cepat. Mereka meninggalkan aku dan Bintang di sini, membiarkan kami hidup tanpa kasih sayang mereka yang masih sangat kami butuhkan. Aku masih butuh ayah dan ibu untuk membimbing kami. Aku masih ingin mendengar suara ayah dan ibu yang memanjakan kami. Ibu boleh meninggalkan aku sendiri, Tapi Bintang masih sangat membutuhkan ayah dan ibu.
Bintang selalu menghiburku dan berkata bahwa aku harus kuat. Aku harus bisa merelakan kepergian ayah dan ibu. Tapi Bintang selalu memanggil ayah dan ibu dalam tidurnya. Bintang menangis dalam tidurnya memanggil ibu. Air mata terus menetes meski matanya masih terpejam dalam tidur. Bintang merintih memanggil ibu saat sakit di kepalanya menyerang. Aku harus menang, dan ini semua untuk Bintang. Untuk pengobatan kanker Bintang besok pagi.
Aba-aba mulai sudah di bunyikan. Aku melesat dengan cepat tanpa memperdulikan tetesan air hujan yang dingin. Rasanya seperti jarum yang menusuk. Bayang-bayang wajah Bintang mulai memenuhi pikiranku. Ambisiku untuk menang semakin besar. Aku menambah kecepatan dan melesat di tengah jalan yang lengang, hingga aku tiba di jalan sekitar perumahan tempat tinggalku dan Bintang. Jalan raya depan rumahku selalu menjadi lintasan balap liar kami, dan hal inilah yang membuatku khawatir, khawatir jika Bintang tau bahwa aku kembali menjadi anggota geng motor.
Aku sudah berjanji pada Bintang, akan berhenti dan tidak lagi menjadi anggota geng motor seperti yang dia inginkan. Aku berjanji akan menjadi kakak yang baik dan selalu ada di sampingnya seperti yang dia minta. Aku mengingkari janjiku, tapi ini demi Bintang, untuk kesehatannya. Tidak ada yang lebih penting dari Bintang saat ini. Dia satu-satunya yang akan aku pertahankan.
BalasHapusAku semakin menambah kecepatan di bawah hujan yang deras. Suara petir yang begitu keras membuatku tersentak. Aku ingat Bintang yang takut gelap dan suara petir. pikiranku kacau karena ingat Bintang yang selalu ketakutan saat mendengar suara petir. Aku khawatir, mungkin Bintang sedang menangis saat ini, atau mungkin sedang mencariku, seperti yang selalu dia lakukan saat dalam situasi seperti ini.
Aku melaju, mulai mendekati jalan di depan rumahku. Konsentrasiku mulai terbagi, tidak lagi fokus dengan balap motor. Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di depanku, hanya beberapa meter di depanku. Aku tidak bisa menghindar karena jarak kami begitu dekat. Aku hanya bisa menginjak rem dengan kuat dan berusaha membelok arah. Tapi percuma, jarak kami begitu dekat. Aku menubruk dan mencelakainya. Aku membuatnya terluka. Dia terjatuh di sampingku. Aku sudah mencelakai perempuan berambut panjang di depanku, tepat di depan rumahku. Dia seperti Bintang. Postur tubuh dan piyama yang sama seperti milik Bintang. Aku mulai di hinggapi perasaan aneh. Takut, sedih, cemas, dan semoga dia bukan Bintang adikku.
Aku tidak lagi memikirkan balap motor dan uang taruhan yang sejak tadi menjadi obsesi utamaku. Aku mendekati gadis berusia sekitar 15 tahun itu. Usia yang sepadan dengan Bintang. Dia tidak bergerak seolah tak bernafas. Aku meratapinya seolah yakin bahwa dia memang Bintang. Aku mendekatinya dan mencoba mengenali wajahnya di antara semak-semak yang tumbuh liar di pinggir jalan, menutupi sebagian wajah gadis itu. Di sini sangat gelap. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
BalasHapusAku menangis, menjerit, dan meratap seperti pria yang rapuh. Aku tidak lagi perduli dengan kata-kata Bintang dulu, bahwa laki-laki tidak boleh terlihat lemah di depan orang yang di sayanginya. Aku hanya peduli dan memikirkan Bintang.
Petir menyambar untuk kesekian kalinya. sekilas, cahaya kilat menerangi wajah gadis itu, dan dia memang Bintang. Wajah lembutnya basah oleh darah yang terus mengalir bersama air hujan. Senyumnya yang teduh masih tersisa di balik wajah pucatnya. Matanya terpejam erat seperti tidak akan terbuka lagi, dan inilah yang selalu membuatku takut. Takut kehilangan orang yang aku sayangi untuk kesekian kalinya.
“Bintang…bangun!!!” berkali-kali aku berkata seperti itu. Tapi Bintang seperti terlelap dalam tidur panjang. Aku memeluk gadis itu di tengah kebingunganku. Ada tangan yang tiba-tiba menyentuh pundakku. Itu tangan Bintang. Dia masih mampu bergerak dan membuka matanya. Dia tersenyum, membuat aku sedikit lebih tenang.
“Bintang, kenapa keluar di tengah malam seperti ini ?” tanyaku masih mendekapnya.
“Aku mencari kakak…aku takut sendirian. Aku takut kakak pergi seperti ayah dan ibu”
Kata-kata Bintang membuat aku merasa bersalah. Aku membiarkan dia sendirian di tengah suasana hujan yang di takutinya. Aku membiarkan dia sendirian saat suara petir terus menerus mengganggu tidur nyenyaknya, dan aku membiarkan dia merasa sendiri lagi seperti saat ayah dan ibu meninggalkannya.
Aku memeluknya. Membiarkan dia tenang dalam ketakutan. Pegangan bintang di pundakku mulai melemah. Tangannya jatuh berjuntai di tanah, matanya tetutup kembali, dan senyumnya menghilang tiba-tiba. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Dia tidak lagi bersuara meski aku terus memanggilnya.
Aku menyadari, kini Bintang sudah pergi. Bukan karena kanker yang selama ini aku khawatirkan akan mengganggu kesehatannya. Tapi karena aku. Karena diriku sendiri yang membuatnya meninggalkanku lebih cepat. Aku menyesal dan mungkin tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku membuat orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku. Rasa bersalah semakin membuatku menyesal. Aku tidak bisa melakukan hal-hal terbaik untuk orang-orang yang aku sayang ketika mereka ada di sini. Dan aku hanya bisa menyesal ketika mereka semua sudah pergi.
keren juga .
BalasHapustapi kok ceritanya sedikit sedihya ...
memang dibuat sedih :) __
BalasHapuskalo pembaca ngrasa trharu, berarti sudah meresapi alur cerita,,
mksih ya uda baca...
mngkin ada saran supaya aq bisa memperbaiki n buat kisah yg lebih berbobot?
terlalu menyedihkan...
BalasHapus