Sabtu, 29 Oktober 2011

BINTANG YANG TERLUKA


BINTANG  YANG  TERLUKA

Malam  semakin  larut.  Udara  yang  berhembus  membuat  kulitku  terasa  beku.  Belum  lagi  gerimis  yang  membuat  suasana  tengah  malam  ini  menjadi  dingin, gelap,  dan  sunyi.  Tapi  ini  semua  tidak  mempengaruhi  kami  para  geng  motor  untuk  tetap  melakukan  ritual  kami  di setiap  malamnya.  Tidak  ada  hal  yang  bisa  mempengaruhi  kami  untuk  membatalkan  balap  liar.  Hujan, petir, gempa,  tidak  ada  yang  bisa  membuat  kami  lari  dari  perkumpulan  anak-anak  liar  ini.  Kecuali  polisi,  itu  satu-satunya  ancaman bagi  kami.
Semua  peserta  sudah  siap  dan  tidak  sabar  menunggu  aba-aba  mulai.  Deru  motor  semakin  melolong  memekakkan  telinga.  Sorakan  keras  dari  mereka  juga  memecah  kesunyian  di  jalan  kecil  ini.  Mereka  berteriak  memberi  semangat,  semakin keras  meskipun  hujan  turun  makin  deras  membasahi  mereka.
Aku  kedinginan,  menggigil  di serang  demam.  Mataku  terasa  panas  dan  ingin  sekali  ku pejamkan.  Tapi  aku  harus  kuat.  Aku  harus  menang  malam  ini.  Aku  harus  bisa  menjadi  orang  pertama  yang  tiba  di garis  finish.  Aku  harus  bisa  mendapatkan  uang  dari  hasil  taruhan  balap  liar  ini.  Untuk  Bintang,  aku  harus  bisa.
Hanya Bintang  yang  aku  punya.  Bintang  satu-satunya  alasan  yang  membuat  aku  bertahan  dalam  situasi  seperti  ini.  Bintang  satu-satunya  orang  yang  menghapuskan  air mataku  saat  aku  kehilangan  orang-orang  yang  aku  cintai.  Bintang  selalu  membuat  aku  tersenyum  meski  dia  sendiri  sulit  untuk  tersenyum  di depanku.  Aku  sayang  Bintang,  aku  tidak  ingin  dia  merasa  sendiri  setelah  kehilangan  ayah  dan  ibu,  karena  dia  memang  tidak  sendiri.  Dia  masih  punya  aku  yang  akan  selalu  ada  untuknya.  Aku  akan  menjadi  kakak  terbaik  untuknya.
Kepergian  ayah  dan  ibu  memang  terlalu  cepat.  Mereka  meninggalkan  aku  dan  Bintang  di sini,  membiarkan  kami  hidup  tanpa  kasih  sayang  mereka  yang  masih  sangat  kami  butuhkan.  Aku  masih  butuh  ayah  dan  ibu  untuk  membimbing  kami.  Aku  masih  ingin  mendengar  suara  ayah  dan  ibu  yang  memanjakan  kami.  Ibu  boleh  meninggalkan  aku  sendiri,  Tapi  Bintang  masih  sangat  membutuhkan  ayah  dan  ibu.
Bintang  selalu  menghiburku  dan  berkata  bahwa  aku  harus  kuat.  Aku  harus  bisa  merelakan  kepergian  ayah  dan  ibu.  Tapi  Bintang  selalu  memanggil  ayah  dan  ibu  dalam  tidurnya.  Bintang  menangis  dalam  tidurnya  memanggil  ibu.  Air  mata terus  menetes  meski  matanya  masih  terpejam  dalam  tidur.  Bintang  merintih  memanggil  ibu  saat  sakit  di kepalanya  menyerang.  Aku  harus  menang,  dan  ini  semua  untuk  Bintang.  Untuk  pengobatan  kanker  Bintang  besok  pagi.
Aba-aba  mulai  sudah  di bunyikan.  Aku  melesat  dengan  cepat  tanpa  memperdulikan  tetesan  air  hujan  yang  dingin.  Rasanya  seperti  jarum  yang  menusuk.  Bayang-bayang  wajah  Bintang  mulai  memenuhi  pikiranku.  Ambisiku  untuk  menang  semakin  besar.  Aku  menambah  kecepatan  dan  melesat  di tengah  jalan  yang  lengang,  hingga  aku  tiba  di jalan  sekitar  perumahan  tempat  tinggalku  dan  Bintang.  Jalan  raya  depan  rumahku  selalu  menjadi  lintasan  balap  liar  kami,  dan  hal  inilah  yang  membuatku  khawatir,  khawatir  jika  Bintang  tau  bahwa  aku  kembali  menjadi  anggota  geng  motor.

5 komentar:

  1. Aku sudah berjanji pada Bintang, akan berhenti dan tidak lagi menjadi anggota geng motor seperti yang dia inginkan. Aku berjanji akan menjadi kakak yang baik dan selalu ada di sampingnya seperti yang dia minta. Aku mengingkari janjiku, tapi ini demi Bintang, untuk kesehatannya. Tidak ada yang lebih penting dari Bintang saat ini. Dia satu-satunya yang akan aku pertahankan.
    Aku semakin menambah kecepatan di bawah hujan yang deras. Suara petir yang begitu keras membuatku tersentak. Aku ingat Bintang yang takut gelap dan suara petir. pikiranku kacau karena ingat Bintang yang selalu ketakutan saat mendengar suara petir. Aku khawatir, mungkin Bintang sedang menangis saat ini, atau mungkin sedang mencariku, seperti yang selalu dia lakukan saat dalam situasi seperti ini.
    Aku melaju, mulai mendekati jalan di depan rumahku. Konsentrasiku mulai terbagi, tidak lagi fokus dengan balap motor. Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di depanku, hanya beberapa meter di depanku. Aku tidak bisa menghindar karena jarak kami begitu dekat. Aku hanya bisa menginjak rem dengan kuat dan berusaha membelok arah. Tapi percuma, jarak kami begitu dekat. Aku menubruk dan mencelakainya. Aku membuatnya terluka. Dia terjatuh di sampingku. Aku sudah mencelakai perempuan berambut panjang di depanku, tepat di depan rumahku. Dia seperti Bintang. Postur tubuh dan piyama yang sama seperti milik Bintang. Aku mulai di hinggapi perasaan aneh. Takut, sedih, cemas, dan semoga dia bukan Bintang adikku.

    BalasHapus
  2. Aku tidak lagi memikirkan balap motor dan uang taruhan yang sejak tadi menjadi obsesi utamaku. Aku mendekati gadis berusia sekitar 15 tahun itu. Usia yang sepadan dengan Bintang. Dia tidak bergerak seolah tak bernafas. Aku meratapinya seolah yakin bahwa dia memang Bintang. Aku mendekatinya dan mencoba mengenali wajahnya di antara semak-semak yang tumbuh liar di pinggir jalan, menutupi sebagian wajah gadis itu. Di sini sangat gelap. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
    Aku menangis, menjerit, dan meratap seperti pria yang rapuh. Aku tidak lagi perduli dengan kata-kata Bintang dulu, bahwa laki-laki tidak boleh terlihat lemah di depan orang yang di sayanginya. Aku hanya peduli dan memikirkan Bintang.
    Petir menyambar untuk kesekian kalinya. sekilas, cahaya kilat menerangi wajah gadis itu, dan dia memang Bintang. Wajah lembutnya basah oleh darah yang terus mengalir bersama air hujan. Senyumnya yang teduh masih tersisa di balik wajah pucatnya. Matanya terpejam erat seperti tidak akan terbuka lagi, dan inilah yang selalu membuatku takut. Takut kehilangan orang yang aku sayangi untuk kesekian kalinya.
    “Bintang…bangun!!!” berkali-kali aku berkata seperti itu. Tapi Bintang seperti terlelap dalam tidur panjang. Aku memeluk gadis itu di tengah kebingunganku. Ada tangan yang tiba-tiba menyentuh pundakku. Itu tangan Bintang. Dia masih mampu bergerak dan membuka matanya. Dia tersenyum, membuat aku sedikit lebih tenang.
    “Bintang, kenapa keluar di tengah malam seperti ini ?” tanyaku masih mendekapnya.
    “Aku mencari kakak…aku takut sendirian. Aku takut kakak pergi seperti ayah dan ibu”
    Kata-kata Bintang membuat aku merasa bersalah. Aku membiarkan dia sendirian di tengah suasana hujan yang di takutinya. Aku membiarkan dia sendirian saat suara petir terus menerus mengganggu tidur nyenyaknya, dan aku membiarkan dia merasa sendiri lagi seperti saat ayah dan ibu meninggalkannya.
    Aku memeluknya. Membiarkan dia tenang dalam ketakutan. Pegangan bintang di pundakku mulai melemah. Tangannya jatuh berjuntai di tanah, matanya tetutup kembali, dan senyumnya menghilang tiba-tiba. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Dia tidak lagi bersuara meski aku terus memanggilnya.
    Aku menyadari, kini Bintang sudah pergi. Bukan karena kanker yang selama ini aku khawatirkan akan mengganggu kesehatannya. Tapi karena aku. Karena diriku sendiri yang membuatnya meninggalkanku lebih cepat. Aku menyesal dan mungkin tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku membuat orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku. Rasa bersalah semakin membuatku menyesal. Aku tidak bisa melakukan hal-hal terbaik untuk orang-orang yang aku sayang ketika mereka ada di sini. Dan aku hanya bisa menyesal ketika mereka semua sudah pergi.

    BalasHapus
  3. keren juga .

    tapi kok ceritanya sedikit sedihya ...

    BalasHapus
  4. memang dibuat sedih :) __
    kalo pembaca ngrasa trharu, berarti sudah meresapi alur cerita,,
    mksih ya uda baca...
    mngkin ada saran supaya aq bisa memperbaiki n buat kisah yg lebih berbobot?

    BalasHapus